IMG-LOGO
Tips & Edukasi

Bukan Sekadar Kebiasaan, Ini Alasan Ilmiah di Balik Tepukan Penidur Bayi

by Admin - 06 Nov 2025 0 Views
IMG

Sorottajam.com - Kebiasaan memberi tepukan atau sentuhan lembut untuk menidurkan bayi ternyata bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan memiliki dasar ilmiah yang berkaitan dengan pengalaman bayi sejak dalam kandungan dan perkembangan sensoriknya pada bulan-bulan awal kehidupan.

Selama masa kehamilan, janin terus-menerus menerima rangsangan ritmis dari tubuh ibu. Salah satu yang paling menonjol adalah suara dan getaran detak jantung, yang berdetak dengan irama konstan di dekat tubuh bayi. Ritme yang berulang dan dapat diprediksi ini berfungsi sebagai sinyal keamanan dan kenyamanan, membantu menenangkan sistem saraf yang sedang berkembang.

Setelah lahir, bayi masih menyimpan keterikatan kuat terhadap memori sensorik dari dalam rahim. Karena itu, gerakan ritmis dan berkesinambungan, seperti mengayun, membuai, atau memberi tepukan lembut, mampu menenangkan bayi karena meniru suasana di dalam rahim. Penelitian dalam bidang neuroilmu menunjukkan bahwa rangsangan taktil yang teratur dapat menurunkan kadar kortisol (hormon stres) sekaligus merangsang pelepasan oksitosin, hormon yang berhubungan dengan rasa nyaman dan ikatan emosional antara bayi dan orang tua.

Selain itu, ritme tepukan dapat selaras dengan pola pernapasan dan detak jantung bayi, membantu mereka bertransisi menuju tidur yang lebih nyenyak. Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep teori autoregulasi, yakni bahwa rangsangan yang konsisten dan berulang membantu bayi membentuk pola tidur dan terjaga yang lebih stabil.

Menariknya, teknik menidurkan bayi dengan cara serupa ditemukan di berbagai budaya di dunia. Dari ayunan di Asia, buaian di Timur Tengah, hingga nyanyian pengantar tidur di Eropa dan Afrika, prinsipnya sama: menghadirkan kembali rasa aman seperti di rahim lewat ritme lembut yang menenangkan. Secara evolusioner, kebiasaan ini diyakini memiliki peran penting untuk menjaga bayi tetap tenang, aman, dan dekat dengan ibunya.

Dengan demikian, tepukan lembut bukan hanya bentuk kasih sayang, tetapi juga respons alami yang selaras dengan biologi dan memori sensorik bayi. Dalam setiap tepukan ritmis, tersimpan gema dari suara dan irama pertama yang mereka kenal, detak jantung ibu yang menenangkan sejak dalam rahim.

Artikel Terkait

View all

Advertisement

Tranding

Stay Connected