Washington, D.C. – Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China mencapai puncaknya hari ini, Rabu (9/4/2025), setelah Presiden Donald Trump secara resmi menaikkan tarif impor menjadi 104 persen untuk seluruh barang asal China.
Kebijakan ini menjadi pukulan telak dalam hubungan perdagangan internasional dan dinilai sebagai eskalasi terbesar sejak perang dagang dimulai tujuh tahun lalu.
Trump menyatakan bahwa kebijakan ini diambil untuk “melindungi kedaulatan ekonomi AS” dan menyudahi apa yang ia sebut sebagai “praktik curang dan manipulatif yang telah dilakukan China selama puluhan tahun.”
Pernyataan itu disampaikan di hadapan media, dengan nada yang jelas menggambarkan bahwa kompromi bukan lagi pilihan.
China: ‘Kami Tidak Akan Mundur’
Menanggapi kebijakan AS, pemerintah China bereaksi keras. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Perdagangan China menuduh Washington melakukan pemerasan ekonomi dan menyatakan bahwa China “tidak akan pernah tunduk.”
“Jika ini adalah perang yang diinginkan Amerika Serikat (perang tarif, perang dagang, atau bentuk lain) maka kami siap berperang sampai titik penghabisan,” tegas juru bicara kementerian dalam konferensi pers di Beijing.
Indonesia dan Negara Lain Juga Terkena Imbas
Tak hanya China, kebijakan tarif baru ini juga menyeret 90 negara lain, termasuk Indonesia. Pemerintah AS menetapkan tarif impor sebesar 32% terhadap produk dari negara-negara tersebut. Pelaku ekspor nasional pun mulai khawatir.
“Ini bisa mematikan ekspor kita ke AS, terutama produk tekstil dan makanan olahan,” kata Dini Lestari, analis perdagangan luar negeri di Jakarta.
“Indonesia harus segera melakukan diversifikasi pasar atau merundingkan ulang jalur perdagangan bilateral.”
Dampak Luas dan Ketidakpastian Pasar
Kenaikan tarif ini diprediksi akan memicu gejolak besar di pasar global. Harga barang impor di AS kemungkinan melonjak, yang berujung pada tekanan inflasi dan turunnya daya beli.
Di sisi lain, pasar saham mengalami fluktuasi tajam, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global.
Sejumlah negara mulai mempertimbangkan langkah balasan, baik dalam bentuk tarif maupun pembatasan ekspor tertentu ke AS. Perdagangan bebas tampaknya kembali menjadi medan pertempuran geopolitik. (Ihy)