Sorottajam.com - Dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan China mulai terasa hingga ke pelosok tanah air.
Para pengrajin tahu dan tempe di Dukuh Bantulan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali kini menghadapi tantangan besar akibat melonjaknya harga kedelai impor.
Kenaikan harga kedelai yang merupakan bahan baku utama tahu dan tempe membuat para pengrajin waswas.
Salah satunya adalah Sunardi (57), pengrajin tahu lokal yang mengaku bahwa harga kedelai impor kini mencapai Rp9.500 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp8.500.
“Sekarang kedelai makin mahal, jadi kami terpaksa mengecilkan ukuran tahu supaya bisa tetap produksi,” ujar Sunardi.
Menurutnya, ukuran tahu yang sebelumnya 6 cm kini dipangkas menjadi 5 cm. Meskipun konsumen mulai menyadari perubahan tersebut, Sunardi menekankan bahwa langkah ini terpaksa diambil agar usaha tetap berjalan.
"Ya kami mau tidak mau memangkas ukuran tahu. Kami juga kan ga mau rugi," ucapnya.
Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana konflik dagang global dapat mempengaruhi ekonomi lokal, khususnya sektor usaha mikro yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
Para pengrajin berharap ada solusi jangka panjang dari pemerintah, baik dalam bentuk subsidi, alternatif bahan baku lokal, maupun stabilisasi harga. (Ihy)