Sorottajam.com - Jalan Gelatik yang terletak di RT.01/03 Sawah Lama, Kecamatan Ciputat sudah menjadi langganan banjir setiap kali turun hujan deras.
Diketahui, Jalan tersebut terletak di samping apartemen Anwa yang menghubungkan ke jalan Cendrawasih dan Jalan Merpati Raya Ciputat.
Pantauan di lapangan, di sekitaran Jalan Gelatik terdapat satu pemukiman warga yang juga berhadapan dengan apartemen Anwa yang menjadi langganan banjir.
Saat dijumpai, salah satu warga setempat, SI (48) mengatakan, saat hujan deras turun dirinya pasti akan bergegas memindahkan barang-barang lantaran takut terendam banjir.
Kata dia, banjir yang merendam rumahnya itu tingginya bisa sampai lutut orang dewasa. Sementara sumbernya diduga berasal dari saluran air yang ada di dalam apartemen tersebut.
"Kalo lagi deres banget kaya minggu kemaren itu sama sebelumnya tingginya selutut. Saya terpaksa pindahkan barang-barang di ponakan saya yang ada di atas Jalan ini," ujarnya.
Sementara saat dikonfirmasi terpisah, Linda Eviyanti, notaris dan PPAT yang mempunyai andil di apartemen Anwa mengungkapkan, persoalan ini sejatinya bukan hal baru.
Ia mengaku telah mengikuti persoalan banjir tersebut bahkan sejak sebelum menjabat sebagai anggota dewan.
Diketahui, saat ini Linda telah menjadi anggota dewan DPRD Kota Tangerang Selatan dari partai Golkar.
“Saya sudah mengikuti dari awal, bahkan sebelum jadi dewan. Koordinasi dengan warga sudah dilakukan, termasuk soal rencana pembangunan tandon. Namun saat itu, ada penolakan dari masyarakat untuk direlokasi,” jelas Linda, Senin (21/4/2025).
Permasalahan utama yang disorot, kata dia, adalah dugaan bahwa aliran air dari kawasan perumahan Anwa menjadi penyebab banjir.
Namun, Linda meluruskan bahwa banjir bukan sepenuhnya akibat aktivitas dari pihak Anwa.
“Aliran air di sana berasal dari saluran lama yang sejak dulu sudah ada, bahkan sejak dari arah Citra. Jadi bukan Anwa yang menciptakan saluran baru,” tegasnya.
Diungkapkan Linda, dulu ketika Pemkot telah menyiapkan lahan tandon untuk solusi jangka panjang, warga sekitar menolak karena alasan relokasi.
“Kita ingin menyelamatkan kawasan dari banjir, tapi kalau masyarakat masih keras menolak solusi teknis seperti pembebasan lahan atau relokasi, maka akan sulit mengatasi banjir,” ujarnya.
Menurut Linda, saat ini tidak bisa lagi hanya saling menyalahkan. Semua pihak baik warga, pengembang, maupun pemerintah harus duduk bersama dan mencari solusi terbaik.
“Ini bukan soal siapa yang salah, tapi bagaimana kita bisa selesaikan masalah ini. Duduk bersama, koordinasi, dan buka semua data dan izin secara transparan,” pungkasnya. (Ihy)