Sorottajam.com - Dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan kapasitas dan kapabilitas SDM Nuklir, Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) menyelenggarakan ICONSTA (International Conference on Nuclear Science, Technology, and Application) selama 2 hari, tanggal 13-14 Nopember 2024 di Grand Zuri Hotel BSD Tangerang Selatan.
ICONSTA yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun merupakan rangkaian kegiatan konferensi yang dapat merepresentasikan perkembangan dan capaian iptek nuklir di Indonesia.
ICONSTA yang ke empat ini diharapkan menjadi wahana bagi para pemangku kepentingan baik dari dalam maupun luar negeri dan pada akhirnya meningkatkan kemampuan SDM Nuklir dalam menciptakan inovasi-inovasi unggul yang bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat pada umumnya.
Dalam penyelenggaraan ICONSTA 2024 tahun ini HIMNI bekerja sama dengan Organisasi Riset Tenaga Nuklir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (ORTN-BRIN). ORTN (semula BATAN) adalah penyelenggara pertama ICONSTA.
Konferensi ini dilaksanakan secara hybrid yang melibatkan 150 orang peserta. Output dari kegiatan ini adalah makalah yang didaftarkan ke prosiding konferens American Institute of Physics (AIP).
Hingga saat ini sudah ada 47 makalah lengkap yang siap didaftarkan ke AIP. Ruang lingkup pertemuan tahun ini adalah ilmu & teknologi nuklir, aplikasi nuklir, serta keselamatan, keamanan, dan manajemen nuklir.
Tema yang dipilih untuk konferensi kali ini adalah "Peluang dan Tantangan Sains dan Teknologi Nuklir untuk Masa Depan yang Lebih Baik". Dalam konferensi ini, cakupan konferensi difokuskan pada sains, teknologi, dan aplikasi nuklir.
Cakupan ini melingkupi bidang pembangkitan energi nuklir dan aplikasi non-energi. Pembangkitan energi nuklir mencakup semua penelitian dan pengembangan di bidang reaktor nuklir untuk pembangkitan energi termasuk teknologi untuk keselamatan nuklir, keamanan nuklir, instrumentasi nuklir, dan lainnya, sedangkan aplikasi non-energi mencakup seluruh penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan, industri, pertanian, keselamatan lingkungan, dan lainnya.
Tema dan cakupan ini sejalan dengan visi dan misi HIMNI. Visi HIMNI adalah "Sains, teknologi, dan rekayasa nuklir diterapkan karena kontribusinya yang vital untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa dan melestarikan sumber daya alam kita", dan misinya adalah "HIMNI berkontribusi untuk memajukan, membina, dan mempromosikan pengembangan dan penerapan sains dan teknologi nuklir di bidang energi, rekayasa, industri, kesehatan, pertanian, dan lingkungan untuk memberi manfaat bagi masyarakat.
Beruntung bahwa, misi ini sejalan dengan misi Presiden terpilih Prabowo Subiyanto, Asta Cita Nomor 2, yaitu mewujudkan kemandirian nasional melalui kemandirian pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru, serta Asta Cita Nomor 4, yaitu memperkuat pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan seterusnya.
Oleh karena itu, HIMNI sebagai organisasi ilmiah independen yang beranggotakan para profesional di bidang tenaga nuklir siap mendukung dan menyukseskan program Pemerintah yang digagas Presiden Prabowo untuk mewujudkan kemandirian di bidang energi, kemandirian pangan, dan pelayanan prima di bidang kesehatan melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis nuklir.
HIMNI akan merekomendasikan tiga sektor penting dan strategis kepada Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subiayanto, yakni sektor energi, pangan, dan kesehatan.
Di sektor energi, kami merekomendasikan Pemerintah untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) secepatnya guna memenuhi kebutuhan energi dan listrik.
Seperti diketahui, berdasarkan target bauran energi yang ditetapkan Pemerintah dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tahun 2017, untuk memenuhi kebutuhan listrik sebesar 23% pada tahun 2025 seharusnya dipenuhi dari energi baru dan terbarukan.
Namun telah terbukti bahwa hal ini hampir mustahil tercapai tanpa kontribusi PLTN sebagai energi baru. Dapat disimpulkan bahwa energi nuklir sudah harus menjadi solusi, dan bukan hanya sekadar opsi.
Di sektor pangan, kami rekomendasikan Pemerintah untuk menggunakan benih padi, terutama benih unggul, yang dikembangkan BRIN untuk meningkatkan hasil panen padi dengan lahan sawah yang tersedia saat ini di Indonesia.
Langkah ini perlu dilakukan sebelum dilakukan perluasan lahan sawah baru di Papua yang berpotensi menimbulkan deforestasi, dan tentu saja membutuhkan biaya yang relatif mahal. Dengan menggunakan benih padi yang dikembangkan BRIN dan dengan sistem pertanian yang intensif, diharapkan dapat menghasilkan padi 8-12 ton per hektare.
Di bidang kesehatan, HIMNI mendukung upaya Pemerintah untuk mempercepat pemanfaatan peralatan radioterapi berbasis nuklir seperti LINAC, terapi Proton dan BNCT untuk pengobatan kanker serta pembukaan pusat-pusat kedokteran nuklir baru dengan prioritas utama di luar Pulau Jawa.
Sebagai ilustrasi, untuk layanan pengobatan kanker, kita membutuhkan satu unit LINAC per satu juta penduduk. Jadi kita membutuhkan setidaknya 280 unit LINAC untuk seluruh negeri. Saat ini LINAC yang terpasang di Pusat-pusat Radioterapi baru sekitar 80-an unit.
Sebagai penutup, kami yakin bahwa iptek nuklir akan dapat berkontribusi secara signifikan di dalam pembangunan nasional di masa yang akan datang, terutama dalam mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, yaitu Negara Nusantara Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan.
Berdasarkan Rancangan Akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, secara umum iptek nuklir diarahkan untuk dapat berkontribusi strategis dalam mendukung transformasi ekonomi terutama dalam menghasilkan produk invensi dan inovasi unggul yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing khususnya di sektor pertanian, kesehatan dan industri. (Ihy)