IMG-LOGO
Sorot Peristiwa

Badan Geologi Pastikan Anak Krakatau Tak Berpotensi Runtuh yang Memicu Tsunami

by Admin - 07 Sep 2026 0 Views
IMG

Sorottajam.com - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini belum menunjukkan potensi keruntuhan tubuh gunung api dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan ukuran tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah sebagian besar tubuh gunung runtuh dalam peristiwa erupsi pada 22 Desember 2018.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” kata Lana dalam konferensi pers, Minggu (6/9/2026).

Menurut Lana, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak secara otomatis menyebabkan tsunami. Peristiwa tsunami Selat Sunda pada 2018 terjadi karena adanya longsoran sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume yang besar.

Dengan kondisi morfologi yang telah berubah pascakejadian tersebut, situasi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum Desember 2018.

“Morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dibandingkan sebelum peristiwa 2018. Sebagian besar tubuh gunung pada sisi tertentu telah runtuh pada 2018,” ujarnya.

Meski demikian, Badan Geologi tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan gunung api tersebut. Hasil pemetaan terbaru menunjukkan bagian dasar tubuh gunung dan kawah utama belum mengalami perubahan signifikan dibandingkan pemetaan sebelumnya.

Lana menegaskan perubahan morfologi dan aktivitas vulkanik tetap menjadi perhatian karena kondisi Gunung Anak Krakatau dapat berkembang dari waktu ke waktu.

“Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif,” katanya.

Di sisi lain, masyarakat diminta tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona terlarang. Aktivitas erupsi masih dapat menghasilkan lontaran material vulkanik yang berisiko membahayakan manusia maupun merusak peralatan di sekitar pusat aktivitas.

Badan Geologi juga mencatat aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Sejumlah jenis gempa, seperti gempa frekuensi rendah, gempa hibrid, gempa harmonik, dan tremor masih terekam dalam pemantauan.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa karakter erupsi Gunung Anak Krakatau masih dapat mengalami perubahan dan peningkatan.

“Waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan,” tutur Lana.

Badan Geologi mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau dan mematuhi rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan oleh otoritas terkait.

Artikel Terkait

View all

Advertisement

Tranding

Stay Connected