Sorottajam.com - Dalam upaya mendapatkan anak dengan jenis kelamin yang diinginkan, banyak pasangan yang mencoba berbagai metode.
Salah satu teori yang sering dibicarakan adalah Metode Shettles, yang mengklaim mampu meningkatkan peluang untuk memiliki anak perempuan. Meskipun belum ada bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaim ini, metode ini tetap populer di kalangan masyarakat.
• Berhubungan Sebelum Ovulasi Menurut teori ini, untuk mendapatkan anak perempuan, pasangan disarankan untuk berhubungan intim beberapa hari sebelum ovulasi.
Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa sperma yang membawa kromosom X (yang akan menghasilkan anak perempuan) bergerak lebih lambat tetapi lebih kuat dan tahan lama dibandingkan dengan sperma yang membawa kromosom Y (yang menghasilkan anak laki-laki).
Dengan berhubungan sebelum ovulasi, diharapkan sperma yang membawa kromosom Y akan mati terlebih dahulu, sementara sperma X akan tetap bertahan hingga sel telur siap dibuahi.
• Penetrasi Dangkal Selain waktu yang tepat, teori ini juga menganjurkan penetrasi yang lebih dangkal. Penetrasi dangkal diyakini memungkinkan sperma X yang lebih kuat bertahan di lingkungan yang lebih asam di dekat leher rahim. Sebaliknya, sperma Y yang lebih lemah dikatakan lebih sulit bertahan dalam kondisi ini.
Mitos atau Fakta? Meskipun metode Shettles terus menjadi topik perbincangan, para ahli medis memperingatkan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk mendukung teori ini. Jenis kelamin anak ditentukan oleh faktor genetik dan proses alamiah, sehingga tidak ada cara pasti untuk memilih jenis kelamin bayi.
Namun demikian, bagi pasangan yang ingin mencoba metode ini, tidak ada salahnya untuk melakukan konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Bagaimanapun, faktor kesehatan dan kesiapan mental menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan kehamilan.
Terlepas dari kepercayaan pada berbagai metode, termasuk Shettles, penting bagi pasangan untuk tetap fokus pada kesehatan ibu dan calon bayi selama proses kehamilan.
Teknologi medis modern dapat membantu dalam berbagai aspek reproduksi, namun jenis kelamin anak tetaplah salah satu misteri alam yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya. (Ihy)