IMG-LOGO
Sorot Ekonomi & Bisnis

Rupiah Menguat Tipis ke Rp 17.898 per Dolar AS, Pelemahan Greenback Jadi Pendorong

by Admin - 11 Oct 2026 0 Views
IMG

Sorottajam.com - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan pekan ini dengan penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan tersebut didukung oleh melemahnya indeks dolar AS serta turunnya harga minyak mentah dunia dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.898 per dolar AS pada Senin (12/10/2026) pukul 09.51 WIB. Posisi itu menguat 1 poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026) di level Rp 17.899 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tercatat turun 0,12 persen ke posisi 102,130 pada pukul 09.00 WIB.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kondisi eksternal masih memberikan peluang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan. Penurunan harga minyak mentah, pelemahan dolar AS, serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sejumlah faktor yang menopang mata uang Garuda.

Menurut Lukman, penurunan imbal hasil obligasi AS terjadi setelah lelang surat utang pemerintah AS bertenor 30 tahun mencatat permintaan yang kuat.

Dari sisi domestik, perkembangan penjualan ritel Indonesia juga memberikan sentimen positif. Pertumbuhan penjualan ritel yang mencapai level tertinggi dalam lima bulan terakhir dinilai turut mendukung pergerakan rupiah.

Meski demikian, penguatan rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan dari perkembangan pasar global. Pergerakan harga minyak mentah dan perubahan imbal hasil obligasi pemerintah di pasar internasional menjadi dua faktor yang perlu diperhatikan investor.

Lukman mengatakan pelaku pasar masih mencermati kenaikan imbal hasil obligasi global yang terjadi belakangan ini. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, perhatian investor tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI).

Kedua indikator tersebut menjadi acuan penting bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.

Jika inflasi AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan, pasar berpotensi menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Sebaliknya, inflasi yang lebih terkendali dapat membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter.

Di dalam negeri, minimnya agenda rilis data ekonomi utama membuat pergerakan rupiah diperkirakan lebih banyak dipengaruhi sentimen eksternal. Karena itu, perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter AS masih menjadi perhatian utama pelaku pasar valuta asing.

Untuk perdagangan Senin (12/10/2026), Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS.

Pergerakan selanjutnya akan bergantung pada respons pasar terhadap perkembangan harga komoditas, imbal hasil obligasi global, serta data inflasi AS yang dapat memengaruhi prospek kebijakan moneter negara tersebut.

Artikel Terkait

View all

Advertisement

Tranding

Stay Connected