Sorottajam.com - Gunung Everest dikenal sebagai gunung tertinggi di dunia dengan ketinggian sekitar 8.849 meter di atas permukaan laut. Terletak di Pegunungan Himalaya, di perbatasan Nepal dan Tibet, gunung ini menjadi impian para pendaki dari berbagai negara.
Namun, di balik keindahan puncaknya, Everest menyimpan sisi gelap yang mengerikan. Sejumlah pendaki yang meninggal saat berusaha mencapai puncak tidak dapat dievakuasi dan jenazahnya tetap berada di gunung selama bertahun-tahun.
Sebagian jenazah bahkan berada di dekat jalur pendakian yang dilalui orang-orang yang masih berjuang mencapai puncak. Kondisi ini membuat Everest kerap dikaitkan dengan cerita mengerikan tentang mayat yang menjadi penanda jalan menuju puncak.
Keberadaan jenazah tersebut bukanlah sesuatu yang sengaja dibuat sebagai penunjuk arah. Namun, karena sulitnya proses evakuasi, beberapa jenazah yang terlihat di jalur pendakian pernah menjadi titik pengenal bagi pendaki lain.
Suhu yang sangat rendah di kawasan Everest dapat memperlambat proses pembusukan tubuh. Jenazah yang terpapar suhu ekstrem dapat membeku dan bertahan dalam waktu lama, terutama ketika tertutup salju atau terperangkap di dalam es.
Meski demikian, kondisi setiap jenazah berbeda-beda. Paparan sinar matahari, perubahan cuaca, angin, dan kondisi lingkungan turut memengaruhi proses penguraian.
Keberadaan jenazah yang bertahan lama bukan satu-satunya persoalan. Tantangan terbesar justru terletak pada sulitnya membawa jenazah turun dari ketinggian ekstrem.
Proses evakuasi membutuhkan tenaga besar, peralatan khusus, serta kondisi cuaca yang mendukung. Di wilayah dengan oksigen terbatas, membantu orang lain sekaligus membawa beban berat dapat meningkatkan risiko bagi tim penyelamat.
Karena itulah, dalam sejumlah kasus, jenazah pendaki tetap berada di gunung selama bertahun-tahun.
Salah satu kawasan paling berbahaya di Everest dikenal dengan sebutan Death Zone, yaitu wilayah di atas ketinggian 8.000 meter.
Di ketinggian tersebut, tekanan udara hanya sekitar sepertiga tekanan udara di permukaan laut. Akibatnya, tubuh manusia kesulitan memperoleh oksigen yang cukup untuk menjalankan fungsi normal.
Pendaki dapat mengalami sakit ketinggian berat, gangguan fungsi otak, kehilangan koordinasi, hingga kerusakan organ. Risiko meningkat jika mereka terlalu lama berada di kawasan tersebut.
Kondisi ini memaksa pendaki mengatur waktu perjalanan dengan sangat ketat. Mereka harus mempertimbangkan persediaan oksigen, kondisi fisik, dan cuaca sebelum memutuskan melanjutkan perjalanan.
Kesalahan kecil dapat berakibat fatal, terutama ketika tubuh sudah mengalami kelelahan dan kemampuan mengambil keputusan mulai menurun.
Cerita tentang mayat yang menjadi penanda jalan di Everest telah lama menarik perhatian publik. Hal ini berkaitan dengan keberadaan beberapa jenazah yang pernah terlihat di dekat jalur pendakian.
Salah satu kasus yang banyak dikenal adalah pendaki bernama Tsewang Paljor, yang meninggal saat badai pada 1996 di jalur sisi utara Everest. Ia kemudian dikenal dengan julukan “Green Boots”, merujuk pada sepatu bot hijau yang terlihat pada jenazahnya.
Selama bertahun-tahun, lokasi jenazah tersebut menjadi titik pengenal yang dikenal oleh banyak pendaki di jalur itu. Namun, keberadaan jenazah bukanlah bagian dari sistem penunjuk arah resmi. Posisi dan kondisi jenazah juga dapat berubah akibat salju, es, atau upaya pemindahan.
Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran tragis tentang risiko yang dihadapi orang-orang yang berusaha menaklukkan gunung tertinggi di dunia.
Bahaya di Everest bukan hanya berasal dari suhu dingin dan kekurangan oksigen. Jalur pendakiannya juga memiliki kawasan es yang sangat berbahaya.
Salah satunya adalah Khumbu Icefall, kawasan gletser yang dipenuhi celah es, menara es raksasa, dan permukaan yang terus bergerak. Runtuhan es dapat terjadi tanpa banyak peringatan.
Pada 18 April 2014, runtuhan es di kawasan Khumbu Icefall menewaskan 16 pekerja gunung, termasuk 13 Sherpa. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi besar dalam sejarah pendakian Everest.
Kejadian itu menunjukkan bahwa risiko tidak hanya mengancam pendaki yang berusaha mencapai puncak, tetapi juga para pekerja lokal yang membantu membawa perlengkapan dan menyiapkan jalur.
Suhu rendah dan angin kencang di Everest dapat menyebabkan frostbite atau radang dingin. Kondisi ini terjadi ketika jaringan tubuh mengalami kerusakan akibat paparan suhu yang sangat rendah.
Bagian tubuh seperti jari tangan, jari kaki, hidung, dan telinga termasuk yang paling rentan. Dalam kasus berat, jaringan yang rusak dapat mati sehingga memerlukan amputasi.
Selain itu, pendaki juga menghadapi risiko hipotermia, yakni kondisi ketika suhu tubuh turun ke tingkat berbahaya. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan hilangnya kesadaran hingga kematian.
Kondisi lingkungan yang ekstrem membuat penanganan medis di kawasan tinggi tidak semudah di wilayah permukiman.
Pada musim pendakian, banyak orang berusaha mencapai puncak Everest dalam periode cuaca yang relatif mendukung. Situasi ini terkadang menyebabkan antrean di jalur sempit.
Pendaki yang terjebak dalam antrean dapat kehilangan waktu berharga. Sementara itu, persediaan oksigen berkurang, tubuh semakin lelah, dan paparan suhu dingin terus berlangsung.
Di ketinggian ekstrem, keterlambatan bukan sekadar masalah kenyamanan. Waktu yang terbuang dapat meningkatkan risiko kelelahan, kekurangan oksigen, dan kesulitan kembali ke kamp sebelum kondisi cuaca memburuk.
Itulah sebabnya, para pendaki perlu menentukan batas waktu untuk berbalik arah. Keputusan membatalkan upaya mencapai puncak terkadang menjadi pilihan paling aman.
Bagi banyak pendaki, mencapai puncak Everest merupakan pencapaian seumur hidup. Namun, keberhasilan tersebut tidak menjamin perjalanan berakhir dengan selamat.
Setelah mencapai puncak, pendaki masih harus menuruni gunung dengan kondisi fisik yang biasanya sudah terkuras. Konsentrasi menurun, tenaga berkurang, dan persediaan oksigen mungkin semakin terbatas.
Cuaca buruk dan jalur licin juga dapat memperbesar risiko kecelakaan. Karena itu, perjalanan turun menjadi bagian yang sama pentingnya dengan pendakian menuju puncak.
Gunung Everest pada akhirnya menyimpan dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, pemandangan Himalaya menawarkan keindahan luar biasa. Di sisi lain, gunung ini menjadi pengingat bahwa ambisi manusia menghadapi batas ketika berhadapan dengan alam yang ekstrem.
Keberadaan jenazah pendaki yang membeku dan sulit dievakuasi menjadi salah satu sisi paling menyedihkan dari Everest. Di gunung ini, keberhasilan bukan hanya tentang mencapai puncak tertinggi, melainkan juga tentang kembali turun dengan selamat.